Senin, 15 Juni 2015

Khutbah Jumar Tarhib Ramadhan 1436 H

KHUTBAH JUMAT

TARHIB RAMADHAN 1436 H
Ust H Hasbullah Ahmad
 الحمدُ لله معطي الجزيلَ لمنْ أطاعه ورَجَاه، وشديد العقاب لمن أعرضَ عن ذكره وعصاه، اجْتَبَى من شاء بفضلِهِ فقرَّبَه وأدْناه، وأبْعَدَ مَنْ شاء بعَدْلِه فولاَّه ما تَولاَّه، أنْزَل القرآنَ رحمةً للعالمين ومَنَاراً للسالِكين فمنْ تمسَّك به نال منَاه، ومنْ تعدّى حدوده وأضاع حقُوقَه خسِر دينَه ودنياه، أحْمدُه على ما تفضَّل به من الإِحسانِ وأعطاه، وأشْكره على نِعمهِ الدينيةِ والدنيويةِ وما أجْدَرَ الشاكرَ بالمزيدِ وأوْلاه،  وأصلِّي وأسَلِّم على نبينا محمدٍ عبدِه ورسولِه المُصْطَفَى وأشهد أنْ لا إِله إلاَّ الله وحده لا شريك له الكاملُ في صفاتِهِ المتعالي عن النُّظَراءِ والأشْباءه، وأشهد أنَّ محمداً عبدُه ورسولُه الَّذِي اختاره على البشر واصْطفاه، صلَّى الله عليه وعلى آلِهِ وأصحابه والتابعينَ لهم بإِحسانٍ ما انْشقَّ الصبحُ وأشْرقَ ضِياه، وسلَّم تسليماً كَثِيْرًا. أمَّابَعْدُ  فيا ايها الناس اتقوالله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.
Jama’ah Jumah saudaraku yang dirahmati Allah.
Seluruh umat Islam kini menyerukan 'Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ya Ramadhan", selamat datang Ramadhan, Selamat datang Ramadhan. Di masjid-masjid, musholla, koran-koran, stasiun televisi dan radio dan berbagai mailing list, ungkapan selamat datang Ramadhan tampil dengan berbagai ekpresi yang variatif. Setiap media telah siap dengan dengan sederet agendanya masing-masing. Ada rasa gembira, ke-khusyu'-an, harapan, semangat dan nuansa spiritualitas lainnya yang sarat makna untuk diekpresikan. Itulah Ramadhan, bulan yang tahun lalu kita lepas kepergiannya dengan linangan air mata, kini datang kembali.
            Takwa merupakan tujuan utama disyariatkannya puasa Ramadan.
لعلكم تتقون Inilah motivasi dasar dari segala bentuk ritual Ramadan. Kaum muslimin hendaknya mempunyai tujuan yang sama , untuk bersama-sama menjalankan ibadah (puasa) agar mencapai puncak rohaniah yang tertinggi dan termulia di sisi Allah swt. Untuk apa menjadi pejabat jika mempermudah kita berlumur dosa? Untuk apa menjadi konglomerat jika hanya akan menyengsarakan kehidupan kita di dunia dan akhirat?. SubhanaLLAH indah dan Nikmat bila kita menjadi pejabat dan konglomerat yang Taqwa.
            Ramadan tahun ini adalah kesempatan bagi kita untuk berlomba-lomba mencapai tingkatan takwa dan menjadi waktu terbaik pembersih dosa. Kita sekarang sedang mengalami defisit takwa. Orang yang bertakwa jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang jahat, kotor, dan tak bermoral. Naudzu biLLAH

Jama’ah Jumah yang dirahmati Allah.
Ramadhan berkah menjadi tempat kita mensucikan diri dari dosa-dosa yang hinggap dalam diri dan jiwa kita karena bulan Ramadhan juga dikenal dengan شهر المغفرة (bulan ampunan) sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW dalam hadisnya :
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَقَامَهُ إِيْمَانًا وَ إحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Sesiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dan mendirikan malamnya dengan Iman dan Muhasabah, diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu" (HR Bukhari dan Muslim)
            Kita mesti Ingat bahwa Allah SWT Maha Pengampun dan Penerima Taubat, apalagi di bulan Ramadhan yang berkah nanti. Allah SWT berfirman :
قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَتَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah: "Hai hamba-hamba'Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya, Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)
            Tidakkah firman Allah ini dapat melapangkan hati, menghilangkan keresahan, dan menghapuskan kegundahan kita? Tampak bahwa Allah sengaja menyapa manusia dengan kalimat "Wahai hamba-hamba-Ku..." Adapun tujuannya, tak lain adalah menyatukan hati para hamba-Nya dan menyentuh perasaan mereka agar mendengarkan ayat tersebut dengan baik. Setelah itu, terlihat bahwa Allah SWT mengkhususkan firman-Nya itu untuk orang-orang yang melampaui batas. Itu dilakukan oleh Allah SWT karena mereka merupakan golongan manusia yang paling banyak melakukan dosa dan kesalahan. Nah, bagaimana dengan kita yang tentu saja juga sering melakukan dosa dan kesalahan? NaudzubiLLAH wa NastaghfiruLLAH

Dalam ayat tersebut, Allah juga melarang hamba-Nya berputus asa dalam memohon ampunan Allah. Allah mengabarkan pula bahwa Dia akan mengampuni siapa saja yang bertobat kepada-Nya, baik dari dosa-dosa kecil maupun yang besar. Tidakkah kita merasa gembira dan bahagia dengan firman Allah SWT,
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
{Dan, (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri mereka sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu, sedang mereka mengetahui.}(QS. Ali 'Imran: 135)

Juga firman-Nya,
وَمَن يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللهَ يَجِدِ اللهَ غَفُورًا رَّحِيمًا
{Dan, barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.}(QS. An-Nisa': 110)

Firman-Nya yang lain,
إِن تَجْتَنِبُوا كَبَآئِرَ مَاتُنْهَوْنَ عَنْهَ نُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُم مُّدْخَلاً كَرِيماً
{Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu) yang kecil dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).}(QS. An-Nisa': 31)
Allah pun berfirman,
وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوا أَنفُسَهُمْ جَآءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا
{Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.}(QS. An-Nisa': 64)
وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى
{Dan, sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal salih, kemudian tetap di jalan yang benar.}(QS. Thaha: 82)
            Dan banyak lagi dalil yang membuktikan bahwa Allah SWT Maha Pengampun. Singkatnya, selama hamba itu bertaubat, meminta ampunan dan menyesali perbuatannya, maka Allah akan mengampuninya. SubhanaLLAH…

Jama’ah Jumah saudaraku yang dirahmati Allah.
Maka dalam rangka membersihkan diri dari dosa dan mencapai tingkat Taqwa, Yang paling penting kita lakukan dalam menyambut bulan Ramadhan tentunya adalah bagaimana kita merancang langkah strategis dalam mengisinya agar mampu memproduksi nilai-nilai positif dan hikmah yang dikandungnya. Jadi, bukan hanya melulu mikir menu untuk berbuka puasa dan sahur saja. Namun, kita sangat perlu menyusun menu rohani dan ibadah kita. Tentunya, kita harus menyusun menu ibadah di bulan suci ini dengan kualitas yang lebih baik daripada hari-hari biasa. Dengan begitu kita benar-benar dapat merayakan kegemilangan bulan kemenangan ini dengan lebih mumpuni. Insya Allah...
            Ramadhan adalah bulan penyemangat. Bulan yang mengisi kembali baterai jiwa setiap muslim. Ramadhan sebagai 'Shahrul Ibadah' harus kita maknai dengan semangat pengamalan ibadah yang sempurna. Ramadhan sebagai 'Shahrul Fath' (bulan kemenangan) harus kita maknai dengan memenangkan kebaikan atas segala keburukan. Ramadhan sebagai "Shahrul Huda" (bulan petunjuk) harus kita implementasikan dengan semangat mengajak kepada jalan yang benar, kepada ajaran Al-Qur'an dan ajaran Nabi Muhammad Saw. Ramadhan sebagai "Shahrus-Salam" harus kita maknai dengan mempromosikan perdamaian dan keteduhan. Ramadhan sebagai 'Shahrul-Jihad" (bulan perjuangan) harus kita realisasikan dengan perjuangan menentang kedzaliman dan ketidakadilan di muka bumi ini. Ramadhan sebagai "Shahrul Maghfirah" harus kita hiasi dengan meminta dan memberikan ampunan.

Jama’ah Jumah saudaraku yang dirahmati Allah.
Semoga, hikmah-hikmah puasa dan keutamaan-keutaman Ramadhan yang akan datang, dapat kita jadikan media untuk bermuhasabah. Hikmah-hikmah puasa dan Ramadhan yang sedemikian banyak dan mutidimensional, mengartikan bahwa ibadah puasa juga multidimensional. Semoga dengan mempersiapkan diri kita secara baik dan merencanakan aktifitas dan ibadah-ibadah dengan ikhlas, serta berniat "liwajhillah wa limardlatillah", karena Allah dan karena mencari ridha Allah, kita akan mendapatkan dua kebahagiaan tersebut, yaitu "sa'adatud-daarain" kebahagiaan dunia dan akherat. Semoga kita bisa mengisi Ramadhan tidak hanya dengan kuantitas harinya, namun lebih dari pada itu kita juga memperhatikan kualitas puasa kita. Semoga Allah memberikan taufikNya kepada kita semua untuk melaksanakan amal shaleh dan menjauhi larangNya, serta menguatkan kita untuk berpegang pada kebenaran sepanjang hayat di kandung badan. Sehingga kita dapat menjumpai Ramadhan 1435 H dengan sempurna. Insya Allah Amin Ya Rabbal Alamin.
ياايها الذين أمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ 
* Ust H Hasbullah Ahmad adalah Pendiri Yayasan Pesantren Terpadu Dar al-Masaleh Jambi, Direktur Qur’an Hadist Learning Center of Jambi, Penasehat dan Pembina Qur’an Integrated School of Dar al-Masaleh dan QUHAS Kindergarten, Dosen Tetap Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. CP : 081366174429

Minggu, 26 Oktober 2014

CARA PRAKTIS MENGHAFAL AL-QUR’AN

CARA PRAKTIS MENGHAFAL AL-QUR’AN
PRAKTIKUM MAHASISWA TAFSIR HADIST IAIN STS JAMBI
Ust H Hasbullah Ahmad (Dosen Tafsir Hadist IAIN STS Jambi, Owner Qur’an Integrated School, al-Qur’an Learning School and Qur’an Hadits Kindergarten)
Kita pasti tahu bagaimana kisah Rasulullah SAW menerima wahyu pertama. Jibril berkali-kali bilang, “Bacalah!” Maka Rasul SAW menjawab, “Saya tidak bisa membaca.”
Namun keajaiban terjadi, hanya dalam tempo singkat, Rasul SAW yang tadinya tidak bisa membaca apalagi menulis, pulang ke rumah sudah membawa 5 ayat pertama surat Al Alaq!
Bila kita bersedia merenung, maka kita akan dapati Rasul SAW melakukan sebuah teknik canggih dalam pembelajaran!
Biasanya semua orang melalui proses baca, paham, tulis dalam pembelajaran. Adapun menghafal ada pada nomer sekian yang jarang disukai manusia.
Namun pembelajaran yang diberikan kepada Rasul SAW secara otomatis membuat Beliau (Rasul SAW) merasa bahwa menghafal jauh lebih mudah dari baca-tulis. Benar tidak yah…?
Ini bukan hanya terjadi pada Rasul SAW, bahkan kepada seluruh sahabatnya. Mereka lebih mudah untuk menghafal dibanding baca-tulis!
Bila mereka dulu mudah hafal, susah lupa, manusia sekarang malah kebalikan; susah hafal, mudah lupa. Betul kan?!
Ayo renungi firman Allah Swt ini:
سَنُقْرِئُكَ فَلاَتَنسَى إِلاَّمَاشَآءَ اللَّهُ
“Kami akan bacakan (Alquran) kepadamu (Muhammad) maka engkau tidak akan lupa, kecuali bila Allah berkehendak.” QS 87: 6-7
Fakta ini harus diungkap kembali oleh ummat Muhammad SAW di akhir zaman ini. Inilah yang membuat umat Muhammad SAW menjadi genius dan brillian. Mereka mampu membuktikan bahwa menghafal lebih mudah dari baca-tulis. SubhanaLLAH.
Maka dalam menghafal al-Qur’an diperlukan metode untuk menghafal Al-Quran yang memiliki keistimewaan supaya dapat memperkuat hafalan dan cepatnya proses penghafalan.
Praktisnya seperti kita menghafal surat Al-Jumu’ah:
1. Bacalah ayat pertama sebanyak 20 kali :
يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
2. Bacalah ayat kedua sebanyak 20 kali:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
3. Bacalah ayat ketiga sebanyak 20 kali:
وَآَخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
4. Bacalah ayat keempat sebanyak 20 kali:
ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
5. Bacalah keempat ayat ini dari awal sampai akhir sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut
6. Bacalah ayat kelima sebanyak 20 kali:
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
7. Bacalah ayat keenam sebanyak 20 kali:
قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
8. Bacalah ayat ketujuh sebanyak 20 kali:
وَلَا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ
9. Bacalah ayat kedelapan sebanyak 20 kali:
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
10. Bacalah ayat kelima sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk mengikat/menghubungkan keempat ayat tersebut
11. Bacalah ayat pertama sampai ayat kedelepan sebanyak 20 kali untuk menguatkan/meng-itqankan hafalan untuk halaman ini
Demikianlah ikuti cara ini dalam menghafal setiap halaman Al-Qur’an. Dan janganlah menghafal lebih dari seperdelapan juz dalam setiap hari agar tidak berat bagi anda untuk menjaganya.
Bagaimana cara menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah?
Janganlah menghafal Al-Quran tanpa proses muraja’ah/pengulangan. Hal ini dikarenakan jika terus menerus menambah hafalan Al-Quran lembar demi lembar hingga selesai kemudian ingin untuk mengulang kembali hafalan dari awal maka hal itu akan berat. Oleh karena itu, jalan terbaik (untuk menghafal) adalah dengan menggabungkan antara menambah hafalan dan muraja’ah.
Bagilah Al-Quran menjadi 3 bagian dimana setiap bagian terdiri dari 10 juz. Jika anda menghafal satu halaman setiap hari, maka ulangilah 4 halaman sebelumnya sampai anda menghafal 10 juz. Jika anda telah mencapai 10 juz, maka berhentilah selama sebulan penuh untuk muraja’ah dengan cara mengulang-ngulang 8 halaman dalam setiap harinya.
Setelah sebulan penuh muraja’ah, maka mulailah kembali untuk menambah hafalan yang baru baik satu atau dua halaman setiap harinya tergantung kemampuan serta barengilah dengan muraja’ah sebanyak 8 halaman dalam sehari. Lakukan ini sampai anda menghafal 20 juz. Jika anda telah mencapainya, maka berhentilah dari menambah hafalan baru selama 2 bulan untuk mengulang 20 juz. Pengulangan ini dilakukan dengan mengulang 8 halaman setiap hari.
Setelah 2 bulan, mulailah kembali menambah hafalan setiap hari sebanyak satu sampai dua halaman dengan dibarengi muraja’ah/pengulangan 8 halaman sampai anda menyelesaikan seluruh Al-Qur’an.
Jika anda telah selesai menghafal seluruh Al-Qur’an, ulangilah 10 juz pertama saja selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz. Kemudian ulangilah 10 juz kedua selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama. Kemudian ulangilah 10 juz terakhir selama satu bulan dimana setiap hari setengah juz bersamaan dengan itu ulangilah pula 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.
Bagaimana cara memuraja’ah/mengulang Al-Quran seluruhnya jika saya telah menyelesaikan system muraja’ah diatas?
Mulailah dengan memuraja’ah Al-Qur’an setiap hari sebanyak 2 juz. Ulangilah sebanyak 3 kali setiap hari hingga anda menyelesaikan Al-Qur’an setiap 2 minggu sekali. Dengan melakukan metode seperti ini selama satu tahun penuh, maka –insya Allah- anda akan dapat memiliki hafalan yang mutqin/kokoh.
Apa yang harus dilakukan setelah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dalam satu tahun?
Setelah setahun mengokohkan hafalan Al-Qur’an dan muraja’ahnya, jadikanlah Al-Qur’an sebagai wirid harian anda sampai akhir hayat sebagaimana Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjadikannya sebagai wirid harian. Adalah wirid Rasulullah dengan membagi Al-Qur’an menjadi 7 bagian sehingga setiap 7 hari Al-Qur’an dapat dikhatamkan. Berkata Aus bin Hudzaifah رحمه الله: Aku bertanya pada sahabat-sahabat Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – tentang bagaimana mereka membagi Al-Qur’an (untuk wirid harian). Mereka berkata: 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, dan dari surat Qaf sampai selesai. (HR. Ahmad). Yaitu maksudnya mereka membagi wirid Al-Quran sebagai berikut:
1.      Hari pertama: membaca surat “al fatihah” hingga akhir surat “an-nisa”,
2.      Hari kedua: dari surat “al maidah” hingga akhir surat “at-taubah”,
3.      Hari ketiga: dari surat “yunus” hingga akhir surat “an-nahl”,
4.      Hari keempat: dari surat “al isra” hingga akhir surat “al furqan”,
5.      Hari kelima: dari surat “asy syu’ara” hingga akhir surat “yaasin”,
6.      Hari keenam: dari surat “ash-shafat” hingga akhir surat “al hujurat”,
7.      Hari ketujuh: dari surat “qaaf” hingga akhir surat “an-naas”.
Wirid Rasulullah – صلى الله عليه وسلم – di singkat oleh para ulama dengan perkataan: فمي بشوق (famii bisyauqi). Dimana setiap huruf dari kata ini merupakan surat awal dari kelompok surat yang dibaca setiap hari.
Bagaimana membedakan antara ayat-ayat mutasyaabih/mirip di dalam Al-Qur’an?
Cara yang paling afdhal jika anda mendapati 2 ayat yang mirip adalah dengan membuka mushaf pada setiap ayat yang mirip tersebut, lalu perhatikanlah perbedaan diantara kedua ayat tersebut kemudian berikanlah tanda yang dapat mengingatkan anda akan perbedaan itu. Lalu ketika anda memuraja’ah, perhatikanlah perbedaan yang anda tandai sebelumnya beberapa kali hingga anda mantap menghafal tentang kemiripan dan perbedaan diantara keduanya.
Kaidah-kaidah dan batasan-batasan dalam menghafal Al-Qur’an
1.      Wajib bagi anda menghafal dengan bantuan seorang ustadz/syeikh untuk membenarkan bacaan anda
2.      Hafallah 2 halaman setiap hari. Satu halaman setelah Subuh, dan satu halaman lagi sesudah Ashar atau sesudah Maghrib. Dengan cara ini, maka anda akan mampu menghafal Al-Qur’an seluruhnya dengan mutqin/kokoh dalam waktu satu tahun. Adapun jika anda menambah hafalan diatas 2 halaman setiap hari maka hafalan anda akan lemah disebabkan semakin banyaknya ayat yang harus dijaga..
3.      Hendaklah menghafal dari surat An-Naas sampai Al-Baqarah karena hal tersebut lebih mudah. Namun setelah selesai menghafal seluruh Al-Quran, hendaklah muraja’ah anda dimulai dari surat Al-Baqarah sampai An-Naas.
4.      Hendaklah menghafal dengan menggunakan satu cetakan mushaf karena hal ini dapat menolong anda dalam memantapkan hafalan dan meningkatkan kecepatan dalam mengingat posisi-posisi ayat serta awal dan akhir setiap halaman Al-Qur’an.

5.      Setiap orang yang menghafal dalam 2 tahun pertama biasanya masih mudah kehilangan hafalannya. Masa ini dinamakan dengan Marhalah Tajmi’ (fase pengumpulan). Janganlah bersedih atas mudahnya hafalan anda hilang atau banyaknya kekeliruan anda. Karena memang fase ini merupakan fase cobaan yang sulit. Dan waspadalah, karena syaithan akan mengambil kesempatan ini untuk menggoda anda agar berhenti dari menghafal Al-Qur’an. Maka janganlah perdulikan rasa was-was syaithan tersebut dan teruskan menghafal karena sesungguhnya itu adalah harta yang sangat berharga yang tidak diberikan pada setiap orang.

Rabu, 01 Oktober 2014

Khutbah Idul Adha 1435 H "Spirit Berbagi, Berkorban dan Berjuang"

Khutbah Idul Adha 1435 H
Masjid Nurul Ikhlas Kotabaru
Ust H Hasbullah Ahmad
(Pendiri Pesantren Terpadu Dar al-Masaleh Jambi, 
Owner Qur’an Integrated School dan Qur’an Hadist Kids; 
Dosen Tafsir Hadits Fakultas IAIN STS Jambi)

(Belajar Spirit Berbagi, Berkorban dan Berjuang
dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail)
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اللهُ أكْبَرُ × 9 اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.
الحمدُ لله الَّذِي أرْشَدَ الخلقَ إلى أكْملِ الاداب، وفتَحَ لهم من خزائنِ رحمتِهِ وجودِهِ كُلَّ باب، أنَار بصائرَ المؤمنينَ فأدركوا الحقائقَ وطلبُوا الثَّواب، وأعْمَى بصائرَ المُعْرِضين عن طاعتِهِ فصار بينهم وبين نوره حجاب، هدى أولئك بفضله ورحمته وأضلَّ الآخرين بعدله وحكمته، إن في ذلك لذِكْرى لأولى الألبَاب، وأشْهدُ أنْ لا إِله إِلاَّ الله وحده لا شريكَ له، له الملكُ الْعَزيزُ الوَهَّاب، وأشْهدُ أنَّ محمداً عبده ورسولهُ المبعوثُ بأجَلِّ العباداتِ وأَكمَلِ الآداب، صلَّى الله عليه وعلى جميع الالِ والأصْحَاب، وعلى التابعين لَهم بإحْسَانٍ إلى يومَ المَآب أما بعد، أيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لاَ يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلاَ مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ بِاللهِ الْغَرُورُ

الله اكبر الله اكبر الله اكبرولله الحمد
Hadirin jamaah Idul Adha Saudaraku rahimakumullah
Sejarah hidup Nabi Ibrahim adalah sejarah manusia yang sukses dalam menjalani hidup, meski ia berangkat dari nol. Sukses berdakwah dalam kondisi sulit dan sukses menjaga amanah ketika telah mulai memanen hasil jerih keringat dakwahnya. Ia memulai Dakwah sebagai seseorang yang harus berhadapan dengan penguasa yang dzalim dan kuat. Harus melewati hukuman yang sangat berat dan tidak memungkinkannya selamat, kecuali atas izin Allah, SWT.
Dalam kitab “Misykatul Anwar” disebutkan bahwa konon, Nabi Ibrahim memiliki kekayaan 1000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta. Riwayat lain mengatakan, kekayaan Nabi Ibrahim mencapai 12.000 ekor ternak. Suatu jumlah yang menurut orang di zamannya adalah tergolong milliuner. Ketika pada suatu hari, Ibrahim ditanya oleh seseorang “milik siapa ternak sebanyak ini?” maka dijawabnya: “Kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak, bila Allah meminta anak kesayanganku Ismail, niscaya akan aku serahkan juga.”
Ibnu Katsir dalam tafsir al-Qur’anul ‘adzim mengemukakan bahwa, pernyataan Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan anaknya jika dikehendaki oleh Allah itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian, yaitu Allah menguji iman dan taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun. Anak yang elok rupawan, sehat lagi cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri. Sungguh sangat mengerikan! Peristiwa spektakuler itu dinyatakan dalam Al-Qur’an:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَآءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (QS Asshafat 102).
Ketika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah. Iblis datang menggoda sang ayah, sang anak, dan sang ibu silih berganti. Akan tetapi Nabi Ibrahim, Siti hajar dan Nabi Ismail tidak tergoyah oleh bujuk rayuan iblis yang menggoda agar membatalkan niatnya. Mereka tidak terpengaruh sedikitpun untuk mengurunkan niatnya melaksanakan perintah Allah. Ibrahim melempar iblis dengan batu, mengusirnya pergi. Dan ini kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah.

الله اكبر الله اكبر الله اكبرولله الحمد
Jamaah Idul Adha Saudaraku yang dirahmati Allah.
Dalam konteks sekarang ini, pengorbanan Nabi Ibrahim tersebut harus tetap kita apresiasikan. Dalam berbagai macam cara seperti menunaikan haji bagi yang mampu serta berkurban hewan ternak bagi umat Islam yang memiliki cukup kelebihan harta untuk melaksanakannya. Berkurban tdk sekedar mengalirkan darah binatang ternak, tdk hanya memotong hewan kurban, namun lebih dari itu, berkurban berarti ketundukan total terhadap semua perintah Allah swt & sikap menghindar dari hal-hal yang dilarang-Nya. Berkurban adalah berarti wujud ketaatan dan peribadatan seseorang, dan karenanya seluruh sisi kehidupan seseorang bisa menjadi manifestasi sikap berkurban.
Berkurban juga berarti upaya menyembelih hawa nafsu dan memotong kemauan syahwat yang selalu menyuruh kepada kemungkaran dan kejahatan. Seandainya sikap menyembelih hawa nafsu ini dimiliki oleh umat Islam, subhanallah, umat Islam akan maju dalam segalanya. Betapa tidak, bagi yang berprofesi sebagai guru, ia berkurban dengan ilmunya. Pengusaha ia berkurban dengan bisnisnya yang fair dan halal. Politisi ia berkurban demi kemaslahatan umum dan bukan kelompoknya. Pemimpin ia berkurban untuk kemajuan rakyat dan bangsanya bukan untuk pribadinya dan begitu seterusnya. Dengan semangat ini, bentuk-bentuk kejahatan akan bisa diminimalisir bahkan dihilangkan di bumi pertiwi ini. Karena itu Allah swt menegaskan dalam firman-Nya QS Al-Hajj:37
لَن يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلاَدِمَآؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ
”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.

الله اكبر الله اكبر الله اكبرولله الحمد
Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah.
Sebuah Kisah Inspiratif, yang bisa menyentuh hati kita... seorang tukang ojek berpenghasilan pas-pasan rela berkorban dengan kambing Otawa yang terbaik disetiap tahunnya, ketika ditanyakan perihal itu, dengan haru dia menjawab ”Untung Allah SWT hanya menyuruh saya mengorbankan kambing, saya tidak sekuat nabi Ibrahim yang rela mengurbankan anaknya untuk Allah SWT, dan saya tidak kuat kalau anak saya yang dikurbankan” SubhanaLLAH, dan dengan berbagi melalui Ibadah Qurban juga akan memberikan kegembiraan, kebahagiaan dan kesenangan bagi saudara-saudara kita yang tidak mampu, Rasanya miris hati kita ketika saudara kita sesama muslim tertimpa musibah, banyak diantara mereka kehilangan orang tercinta dan harta-harta mereka. seperti mirisnya hati kita ketika melihat fenomena dua anak yang berbeda latar belakang, yang satu anak yang kaya lengkap dengan berbagai kemewahan, ketika hari raya tiba mereka dengan semangat menyampaikan kepada kedua orang tua mereka ”Pa... Adek mau makan daging”, si ayahpun dengan tegas menjawab ”nanti ayah belikan daging yang paling okay” terus kembali lagi meminta kepada ibundanya ”ma... belikan adek baju baru dong” si ibupun menjawab dengan lugas ”ya pasti mama belikan yang paling bagus”... dan banyak lagi permintaan lain yang dipintanya semua terkabulkan karena kemewahan dan kekayaan yang mereka miliki.
Sementara disisi lain seorang anak yatim piatu tanpa ayah dan ibu, ayah dan ibunya meninggal karena Musibah ketika hari raya tiba mereka hanya bisa menghadiri pusara ayah dan ibunya dengan semangat sambil membacakan al Fatihah sebagai dedikasi cinta kepada kedua orang tuanya, sembari mengucapkan diatas pusara ayahnya : ” Yah... kawan-kawan sekarang lagi asik dengan lebaran, makan sate daging, pizza dan lain-lain maukan ayah belikan adek juga... yang diterima hanyalah tiupan angin sepoi-sepoi, lalu berlanjut ke pusara ibundanya sambil bergumam : ”mak... baju adek sudah jelek mak, maukan mak belikan adek baju baru, kawan-kawan adek pake baju baru semua” tiada sedikitpun jawaban yang diterima namun si-anak tetap bahagia walau hampa tanpa jawaban. SubhanaLLAH wa AstaghfiruLLAH. Maka melalui Ibadah Qurban yang kita bagikan, Zakat Mal, Infaq, Shadaqah dan bantuan yang telah kita tunaikan bisa menjadi penyambung silaturahim dan perwujudan nilai kepekaan bagi diri kita dalam kehidupan bermasyarakat untuk dapat memahami bagaimana susahnya anak yatim, fakir dan miskin dan orang yang tertimpa musibah melawan jalan kehidupan yang penuh duri ini. 
الله اكبر الله اكبر الله اكبرولله الحمد
Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah
Namun apa yang kita saksikan dewasa ini. Jiwa pengorbanan pada banyak kalangan telah digeser oleh semangat atau nafsu mengorbankan orang lain. Perhatikan saja kemelut di layar kaca dirumah kita, Perang terbuka di  media massa, baik itu korupsi, tuduh menuduh, kemaksiatan dan lain-lain makin membuat kita prihatin. Dari kasus ke kasus yang makin ruwet bagai gulungan benang kusut. Naudzubillah Analisis secara yuridis dan sosiologis tidak mampu membawa peta masalah makin terang benderang. Hanya satu pisau analisis yang mampu memposisikan dan memahami masalah yang ada secara mendasar dan tepat. Yaitu analisis mental dan moral manusia. Secara mental ada kerusakan yang serius, yaitu hilangnya kejujuran ”الصدق”, dan diputusnya ketertautan antara apa yang diperbuat di dunia ini dengan kesadaran terhadap negeri akhirat. Dengan absennya kejujuran maka yang menggantikannya adalah kedustaan ”الكذب”. Kalau sudah begitu, tidak ada lagi orang yang mau mengakui kesalahan malah justeru menyalahkan pihak lain, dan ujung-ujungnya mengorbankan pihak lain demi  membela akuisme personal (diri sendiri) atau egoisme lembaga. Dalam konteks ini Rasulullah saw telah memberikan peringatan dengan sabdanya:
إِيّاكُمْ وَالكَذِبَ فَإن الكذب يهدى الى الفجور وإن الفجور يهدى الى النار وما يزال الرجل يكذب ويتحرّى حتّى يكتب عند الله كذّابا
”Hati-hati dengan dusta, sebab dusta akan membawa pada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa akan menyeret ke naraka. Seseorang berulang kali berdusta hingga terbentuk sifat  dan dituliskan sebagai pendusta” (Riwayat Muslim)
Egoisme personal atau sektoral jika dikembangkan akan mengemuka dalam tiga sikap yang destruktif, sebagaimana disebutkan dalam oleh Umar bin Khatthab. Yaitu: شخ مطاعsyukhkhun mutha’un” sikap pelit yang menggerus rasa empati terhadap sesama; هوىً متبع ”hawan muttaba’un” yakni hawa nafsu selera rendah yang diikuti sehingga makin jauh dari idealisme bahkan kewajaran sekalipun; dan ketiga دنيا مأثرة  ”dunyan mu’tsaratun” yaitu kepentingan duniawi yang terus dikejar. Dalam konteks itu semua bukan lagi nilai yang menjadi acuan atau norma yang jadi rujukan, melainkan إعجاب ذى الرأي بالرأيه  ”i’jabu dzirra’yi bira’yihi” kepongahan orang dalam  mempertahankan/membela  pendapatnya sendiri. Konsultasi diabaikan dan musyawarah dilecehkan dengan teknik-teknik manipulatif. Naudzu biLLAH.
Faktor-faktor itu oleh sahabat Umar disebut المهلكات al muhlikat” yakni faktor-faktor penghancur  dalam kehidupan masyarakat. Kalau satu dari empat penyakit mental dan moral tersebut sudah merusak, bagaimana jika keempat-empatnya sekaligus telah menimpa  kalangan masyarakat kita.  Di bawah selimut awan pekat egoisme dan pelbagai bentuk rekayasa dan kebohongan, pesimisme di tengah-tengah masyarakat terus menyeruak melontarkan tanda tanya: masih adakah harapan akan keadilan, kejujuran dan ruang ASA bagi sebuah masa depan yang lebih baik ?

الله اكبر الله اكبر الله اكبرولله الحمد
Jamaah Idul Adha Saudaraku Rahimakumullah
Kini Allah memanggil kita, menuntut ketaatan total kita kepada-Nya. Ketaatan itu menuntut kita untuk berkorban; mengorbankan apa saja yang kita miliki demi menggapai ridha-Nya. Hanya dengan pengorbanan demi ketaatan itulah, kita akan meraih kembali kemuliaan hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat. Ingatlah, wahai kaum Muslim, bahwa untuk itulah Nabi bersumpah tidak akan pernah mundur walau selangkah, sampai Islam menang atau baginda saw. binasa:
وَاَللّهِ لَوْ وَضَعُوا الشّمْسَ فِي يَمِينِي، وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِي عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الأَمْرَ حَتّى يُظْهِرَهُ اللّهُ أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ مَا تَرَكْتُهُ
”Demi Allah, andai saja mereka bisa meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, (lalu mereka minta) agar aku meninggalkan urusan (agama) ini, maka demi Allah, sampai urusan (agama) itu dimenangkan oleh Allah, atau aku binasa di jalannya, aku tetap tidak akan meninggalkannya.” (Hr. Ibn Hisyam)

Jama’ah Idul Adha yang dirahmati Allah. Seseorang menjadi besar karena jiwanya besar. Tidak ada jiwa besar tanpa jiwa yang punya semangat berkorban. Berkat  روح البذل و التضحية والمجاهدة (ruhul badzli wal tadlhiyah wal mujahadah) atau spirit berbagi, berkorban dan berjuang, ummat ini telah menjadi ummat yang besar, bergengsi dan disegani dunia dalam sejarahnya. Mari kita kembalikan kebesaran serta gengsi ummat ini dengan menyemai semangat memberi, berkorban dan mujahadah pada diri, keluarga dan masyarakat kita. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa kita dan melimpahkan seluruh kasih sayangnya kepada kita sekalian, sehingga tercukupi segala hajat kita. agar dapat mengabdi dan beribadah kepada Allah secara total dengan lebih sempurna sebagai wujud refleksi terhadap pengorbanan Nabi Ibrahim Alaihi Salam. serta mewujudkan JAMBI yaitu Jadikan Alqur’an Membangun Bangsa Indonesia Amin Allahumma Amin
أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Ust H Hasbullah Ahmad
Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi
081366174429 eMail : hasbullahdoseniain@gmail.com

Website : www.usthasbullahahmadma.blogspot.com

Rabu, 10 September 2014

SAP & SILABUS MEMBAHAS KITAB-KITAB TAFSIR KLASIK

SAP & SILABUS
MEMBAHAS KITAB-KITAB TAFSIR KLASIK

Mata Kuliah                :  Membahas Kitab-Kitab Tafsir Klasik
Kode                          :
Bobot SKS                 :  3 SKS
Jurusan                       :  Tafsir Hadist
Semester                    :  IV (Empat)
Mata Kuliah Prasyarat :  -
Dosen Pengampu         : H Hasbullah Ahmad  
NIP                                    : 197912122009011015

Standar Kompetensi        :
1.    Mahasiswa mempunyai wawasan tentang kitab-kitab Tafsir Klasik dan Ilmu Tafsir dalam Ilmu-Ilmu al-Qur’an guna memahami dan mendalami kandungan al-Qur’an.
2.    Memiliki kemampuan memahami macam-macam bentuk Penafsiran, Kitab Tafsir dan Ilmu Tafsir serta cara mufassir modern dalam menafsirkan al-Qur’an dengan pemahaman yang mendalam.
3.    Menerima dengan kritis hakikat dari Tafsir,  Ilmu Tafsir dan Kitab-Kitab Tafsir Klasik sebagai bagian dari  ilmu-ilmu al-Qur’an baik teori maupun praktek.
4.    Dapat menerapkan dan atau mengaplikasikan konsep teoritis dan praktis setiap makna, kaidah Tafsir, Ilmu Tafsir dan kitab-kitab tafsir modern yang telah dipelajari.

Deskripsi Mata Kuliah        :
Mata kuliah ini merupakan mata kuliah wajib bagi jurusan/program studi Tafsir Hadist pada Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi. Mata kuliah ini akan memberi pengetahuan dasar kepada mahasiswa tentang kitab-kitab Tafsir klasik dengan konstruksi mata kuliah yang telah ditetapkan dan disepakati dan Mata kuliah ini mengkaji tentang Tafsir al-Qur’an yang berhubungan dengan tata cara menafsirkan al-Qur’an serta ilmu yang berhubungan dengan penafsiran al-Qur’an baik itu defenisi, hakikat, metode dan hal-hal yang berhubungan dengan tafsir al-Qur’an serta mengkaji bentuk dan corak penafsiran al-Qur’an Klasik maupun Kontemporer.

Strategi Pembelajaran:
• Ceramah, Diskusi dan Tanya Jawab
• Penugasan / Student Individual Task / Student Grouping Task / Performance
Penilaian atau Evaluasi :
1. Keaktifan dan Kehadiran : 20 %
2. Tugas-tugas/Paper/Student Task/Performance : 40 %
3. Ujian Tengah semester (UTS) : 15 %
4. Ujian Akhir Semester (UAS) : 25 %
J u m l a h : 100 %
KONSTRUKSI PERKULIAHAN
التفسير و علوم التفسير
Perkuliahan Perdana
a.       Kesepakatan kontrak perkuliahan, matari perkuliahan, dan tata tertib
b.      Mendiskripsikan materi perkuliahan secara umum dan tujuan yang dicapai
c.       Pembagian Kelompok Student Individual dan Grouping Task
d.      Ta’aruf Latar belakang masing-masing Mahasiswa.
e.       Pengantar tentang tafsir dan ilmu tafsir (Defenisi dan Urgensinya)

Perkuliahan Kedua
شروط وأدب المفسرين التفسير والتأويل Tafsir dan Ta’wil serta Syarat dan Adab Seorang Mufassir
a.       Pengertian dan perbedaan Tafsir dan Ta’wil
b.      Keutamaan Tafsir al-Qur’an dan Keberadaan Tafsir dalam Kajian Islam
c.       Syarat-Syarat Mufassir al-Qur’an
d.      Adab-Adab Mufassir al-Qur’an

Perkuliahan Ketiga
Sejarah Perkembangan Tafsir al-Qur’an Masa Awal, Klasik & Modern
a.       Tafsir Pada Masa Nabi Muhammad SAW dan Masa Sahabat Nabi
b.      Tafsir pada Masa Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in
c.       Tafsir pada Masa Mufassir Klasik dan Modern
d.      Tafsir pada Era Kontemporer

Perkuliahan Keempat
Tafsir bi Ma’thur dan bi al-Ra’y serta Kaidah Umum dalam Menafsirkan al-Qur’an
a.       Makna dan Hakikat Tafsir bi al-Ma’thur dan Tafsir bi al-Ra’y
b.      Perbedaan pendapat tentang Tafsir bi al-Ma’thur
c.       Kaidah-kaidah dalam menafsirkan al-Qur’an
d.      Bentuk-bentuk kaidah tafsir yang diterapkan dalam penafsiran al-Qur’an

Perkuliahan Kelima
Metode-Metode Penafsiran al-Qur’an
a.       Al-Tafsir al-Tahlili (Tafsir dengan metode analisis)
b.      Al-Tafsir al-Ijmali (Tafsir dengan metode Global)
c.       Al-Tafsir al-Muqarin (Tafsir dengan metode komparatif)
d.      Al-Tafsir al-Mawdhu’i (Tafsir dengan metode tematis)

Perkuliahan Keenam
Corak Tafsir dengan Metode Analisis (tahlili)
a.       Tafsir Fiqhi
b.      Tafsir Shufi
c.       Tafsir Falsafi
d.      Tafsir Ilmiy
e.       Tafsir Adabiy al-Ijtima’i

Perkuliahan Ketujuh
Mufassir pada Masa Nabi dan Sahabat
1.      Abdullah bin Abbas
2.      Abdullah bin Mas’ud
3.      Ali bin Abi Thalib
4.      Ubay bin Ka’ab

Perkuliahan Kedelapan
Tafsir pada Masa Tabi’in
1.      Tabi’in di Makkah
2.      Tabi’in di Madinah
3.      Tabi’in di Iraq

Perkuliahan Kesembilan
Mengenal dan mendalami
Tafsir al-Thabari ”Ja>mi’ al-Baya>n fiy al-Tafsi>r al-Qur’a>n

Perkuliahan Kesepuluh
Mengenal dan mendalami
Tafsi>r al-Qur’a>n al-’Adhi>m Ibn Katsir

Perkuliahan Kesebelas
Mengenal dan mendalami
Tafsir al-Dur al-Mansur fi Tafsir bi al-Ma’thur Assuyuthi

Perkuliahan Keduabelas
Mengenal dan mendalami
Tafsi>r Mafatih al-Ghaib Fakhr al-Razi

Perkuliahan Ketigabelas
Mengenal dan mendalami
Tafsi>r Bahr al-’Ulu>m Samarqandi

Perkuliahan Keempatbelas
Mengenal dan mendalami
Tafsi>r Ma’alim al-Tanzil Baghawi

Perkuliahan Kelimabelas
Mengenal dan mendalami
Tafsi>r Gharaib al-Qur’an wa Raghaib al-Furqan Naisaburi

Perkuliahan Keenambelas
Mengenal dan mendalami
Tafsi>r Jalalain Jalaluddin al-Mahilli dan Jalaluddin al-Suyuthi.

Aturan Pembuatan Makalah Presentase
1.      Hasil Karya Orisinil bukan Palagiat atau Copy Paste Dari Internet tanpa pertanggungjawaban Ilmiyah.
2.      Makalah ditulis dengan kertas B5 atau A4, Bila B5 Spasi 1 dengan rata kiri-kanan-atas-bawah sama, bila A4 maka spasi 1.5.
3.      Ditulis dengan menggunakan metode penulisan standar (Gaya Penulisan Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi)
4.      Cakupan makalah meliputi : Pendahuluan, Isi, Kesimpulan dan Rujukan
5.   Isi mencakup : a. Biografi Mufassir, b. Motivasi Penulisan tafsir, c. Sumber Penafsiran, d. Metode dan Corak Penafsiran, e. Sistematika Penafsiran dan Penulisan Tafsir, f. Mazhab Penafsir baik Aqidah maupun Fiqh, g. Karasteristik Penafsiran, h. Bentuk klasik dalam Menafsirkan al-Qur’an.
6. Silahkan bertanya dan berkonsultasi pada layanan HP 081366174429 atau eMail : hasbullahdoseniain@gmail.com
 
Rujukan :
1.     Semua Kitab-Kitab Tafsir di atas.
2.     al-Qat}t}an, Manna>’., Maba>h{ith fi al-Ulu>m al-Qur’a>n, Beirut: Mua’sasah al-Risa>lah, 1994.
3.    al-Zarqa>ni, Muh}ammad ‘Abd al-‘Adhi>m., , Mana>hil al-‘Irfa>n fi ‘ulu>m al-Qur'a>n, Mesir: Mus}t}ofa> ba>b al-Halabi, t.th.
4.   Al-Farma>wi>, ‘Abd al-Hay, al-Bida>ya fi> al-Tafsi>r al-Mawdu>‘iy, Mesir: Maktabah Jumhu>riyyah, 1977.
5.     al Dhahabi>y, Muhammad Husa>yn, al-Tafsi>r wa al-Mufassiru>n, Beirut: Shirkah Da>r al- Arqa>m bin Abi> al-Arqa>m, t.th
6.     Iya>zi, al-Sayyid Muh}ammad ‘A<li, al-Mufassiru>n H{aya>tuhum wa Manhajuhum, Teheran: Wazi>rah al-Tsaqa>fah wa al-Irsha>d al-Isla>miy, 1414 H.
7.     S}ala>h ‘Abd al Fata>h al Kha>lidiy, Ta‘ri>f al Da>risi>na bi Mana>hij al Mufassiri>yna, Damaskus: Da>r al Qalam, 2000.
8.      Mah}mu>d, Mani>‘ ‘Abd al-Hali>m, Mana>hij al-Mufassiri>n, Kairo : Da>r al-Kutub al-Mis}ri, 1978.
9.      al-S{a>lih, S{ubh{i>y, Maba>h{ith fi>y ‘Ulu>m al-Qur'a>n, Beirut, Da>r al-‘Ilm li al-Mala>yi>n 1977.
10.  Saiful Amin Ghafur, Profil Para Mufassir al-Qur'an, Pustaka Insani Madani: Yogyakarta : 2008.
11.  Shihab, M  Quraish et al, Sejarah dan Ulumul Qur'an, Jakarta : Pustaka Firdaus dan Bayt al-Qur'an TMII, 2004.
12. Shihab, M Quraish., Rasionalitas al-Qur'an; Studi Kritis atas Tafsir al-Mannar, Jakarta, PT Lentera Hati, 2006.
13. ‘Imarah, Muhammad, al-A’ma>l al-Ka>milah li al-Syaikh Muh}ammad ‘Abduh, Kairo : Da>r al-Shuru>q,1993.
14.  al Muh{tasib, ‘Abd al-Maji>d ‘Abd al-Sala>m, Ittija>h{a>t al-Tafsi>r fi al-‘As{hr al-H{adi>th, Lubna>n: Da>r al-Fikr, 1392H.

Mendalo, September 2014
Dosen Pengampu,


H Hasbullah Ahmad

197912122009011015