Selasa, 12 April 2016

Tema Tausiyah Global TV 2016

Tema Tausiyah GLOBAL TV
Shooting Jakarta, 14-15 April 2016
Oleh Ust DR H Hasbullah Ahmad, MA

Tobat Kunci Pertolongan Hadir
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertaubatlah kalian semua wahai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (QS. An Nuur: 31)
Keutamaan Taubat
1. Taubat adalah sebab untuk meraih kecintaan Allah ‘azza wa jalla.
إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (QS. Al Baqarah: 222)
2.Taubat merupakan sebab keberuntungan.
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعاً أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertaubatlah kepada Allah wahai semua orang yang beriman, supaya kalian beruntung.” (QS. An Nuur: 31)
3.Taubat menjadi sebab diterimanya amal-amal hamba dan turunnya ampunan atas kesalahan-kesalahannya.
وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ
“Dialah Allah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan Maha mengampuni berbagai kesalahan.” (QS. Asy Syuura: 25)
Allah ta’ala juga berfirman
وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحاً فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَاباً
“Dan barang siapa yang bertaubat dan beramal saleh maka sesungguhnya Allah akan menerima taubatnya.” (QS. Al Furqaan: 71).
4.Taubat merupakan sebab masuk surga dan keselamatan dari siksa neraka.
فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئاً
“Maka sesudah mereka (nabi-nabi) datanglah suatu generasi yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsu, niscaya mereka itu akan dilemparkan ke dalam kebinasaan. Kecuali orang-orang yang bertaubat di antara mereka, dan beriman serta beramal saleh maka mereka itulah orang-orang yang akan masuk ke dalam surga dan mereka tidaklah dianiaya barang sedikit pun.” (QS. Maryam: 59, 60)
5.Taubat merupakan sebab berbagai kejelekan diganti dengan berbagai kebaikan.
وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَاناً إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلاً صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً
“Dan barang siapa yang melakukan dosa-dosa itu niscaya dia akan menemui pembalasannya. Akan dilipatgandakan siksa mereka pada hari kiamat dan mereka akan kekal di dalamnya dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman serta beramal saleh maka mereka itulah orang-orang yang digantikan oleh Allah keburukan-keburukan mereka menjadi berbagai kebaikan. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS. Al Furqan: 68-70)
6. Taubat menjadi sebab untuk meraih segala macam kebaikan.
فَإِن تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ
“Apabila kalian bertaubat maka sesungguhnya hal itu baik bagi kalian.” (QS. At Taubah: 3)
7.Taubat merupakan sebab turunnya barakah dari atas langit serta bertambahnya kekuatan.
وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُواْ رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُواْ إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلاَ تَتَوَلَّوْاْ مُجْرِمِينَ
“Wahai kaumku, minta ampunlah kepada Tuhan kalian kemudian bertaubatlah kepada-Nya niscaya akan dikirimkan kepada kalian awan dengan membawa air hujan yang lebat dan akan diberikan kekuatan tambahan kepada kalian, dan janganlah kalian berpaling menjadi orang yang berbuat dosa.” (QS. Huud: 52)
 
Pemimpin yang Jujur
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّـٰدِقِينَ
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS al-Taubah 119)
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَآ إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلاَةِ وَإِيتَآءِ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ
Artinya : Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu mengabdi (QS al-Anbiya 73)
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِئَايَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”. (QS al-Sajadah 73)

Cukup Allah saja yang menilai
حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
…Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arsy yang agung.”(At-Taubah : 129)
ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan), dan ujub (takjub pada diri sendiri).” (H.R. Abdur Razaq, hadist hasan)
Cukuplah Allah… حسبى ربى جل الله  مافى قلبى غير الله
QS An-Nisa : 6 
Wakafa billahi hasiiba (Cukuplah Allah sebagai Pengawas) 
QS An-Nisa : 45
Wakafa billahi waliyyan (Cukuplah Allah sebagai Pelindung)
QS An-Nisa : 45
Wakafa billahi nashiiran (Cukuplah Allah sebagai Penolong)
QS An-Nisa : 70
Wakafa billahi 'aliiman (Cukuplah Allah yang mengetahui)
QS An-Nisa : 79
Wakafa billahi syahiidan (Cukuplah Allah sebagai Saksi)

Suri Tauladan Nabi Muhammad SAW
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yakni bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (at-Taubah: 128)
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (al-Qalam: 4), 
Kenapa Rasul kita Tauladani :
1. Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
Ketika Aisyah Radhiyallahu’anha ditanya tentang akhlak Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasalam, maka dia menjawab, “Akhlaknya adalah Al Qur’an.” (HR. Abu Dawud dan Muslim)
2. Nabi Muhammad SAW Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al Bazzaar)
3. Kebaikan itu adalah Akhlak yang Baik
Rasulullah bersabda: “Kebajikan ialah akhlak yang baik dan dosa ialah sesuatu yang mengganjal dalam dadamu dan kamu tidak suka bila diketahui orang lain.” (HR. Muslim
4. Rasulullah adalah orang yang paling dermawan
Anas Radhiyallahu’anhu berkata, “Rasulullah adalah orang yang paling baik, paling dermawan (murah tangan), dan paling berani”. (HR. Ahmad)
5. Nabi Muhammad Selalu Ramah Pada Siapapun, Bahkan pada Maula (Pembantu Rumah 
Tangga Beliau).
Anas RA, pembantu rumah tangga Nabi Muhammad SAW berkata, “Aku membantu rumah tangga Nabi SAW sepuluh tahun lamanya, dan belum pernah beliau mengeluh “Ah” terhadapku dan belum pernah beliau menegur, “kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tidak kau lakukan ini.” (HR. Ahmad)

Allah SWT Tempat bersandar
Menyandarkan hati kepada Allah SWT  adalah termasuk ibadah yang sangat diperintahkan dalam Islam. Hal itu karena seorang hamba selalu memerlukan Rabb-nya dalam setiap keadaan.
Allah SWT sendiri telah menyifati diri-Nya dengan Dzat yang menjadi tempat bergantungnya segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya:
الله الصمد
Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (QS. al-Ikhlâsh: 2)
Ibrahim berkata: ”ash-Shamad artinya Dzat yang menjadi tempat bergantungnya para hamba dalam kebutuhan-kebutuhannya”. (ad-Durr al-Mantsūr, jilid 15, hlm. 782)
Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS.  Thaha 124)
Do’a Rasulullah SAW tersebut adalah sebagaimana dijelaskan dalam hadits Anas RA berikut, ia berkata: Rasulullah SAW berkata kepada Fatimah RAH
مَا يَمْنَعُكِ أَنْ تَسْمَعِيْ مَا أُوْصِيْكِ بِهِ ؟ أَنْ تَقُوْلِيْ إِذَا أَصْبَحْتِ وَإِذَا أَمْسَيْتِ
Apa yang menghalangimu dari mendengarkan wasiatku kepadamu ? Hendaklah engkau membaca (doa ini) apabila berada di waktu pagi hari dan sore hari:
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلىَ نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا
Wahai Dzat Yang Maha Hidup Kekal, Wahai Dzat Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan, perbaikilah semua urusanku dan janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku walaupun hanya sekejap mata”.

Tawaddhu Rendah Hati
Tawaddhu adalah sikap merendahkan hati kepada yang berhak yaitu Allah yang Maha Suci lagi Maha Tinggi, juga kepada orang-orang yang Allah SWT perintahkan kita untuk bersikap tawadhu pada mereka seperti kepada para nabi dan imam, Qiyadah, hakim, ulama dan orang tua. Anjuran al-Qur’an untuk rendah hati :
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِين
Yang artinya : “Dan Rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman (QS Asy Su’ara: 215)

Sempurnakan Hidup dengan تقوى  “ Ta-Qaf-Waw dan Ya”
Ta          : Tawaddhu                 Qaf      : Qana’ah
Waw     : Wara’                        Ya       : Yakin

Tingkatan Keyakinan Tabir Hati
كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ(5)لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ(6)ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ
“Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin.” (QS. At-Takatsur 5-7)
إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ
Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar.” (QS. Al-Waqi’ah 95)

Maka ada tiga tingkatan derajat keyakinan tabir hati  yaitu :
1. Ilmul yaqin. Arinya menerima apa pun yang tampak dari Allah dan menerima apa yang tidak tampak dari Allah sereta berada pada apa yang ditegakkan Allah.
2. Ainul yaqin. Artinya yang membutuhkan kesaksian dari suatu kesaksian, yang membutuhkan pandangan dari mata telanjang dari suatu pengabaran dan kesaksian yang menyibak tabir ilmu.
3. Haqqul yaqin. Artinya mengobarkan cahaya penyingkapan, membebaskan diri dari beban yaqin dan melebur dalam haqqul yaqin.

Generasi Unggul dalam Islam
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An-Nisa:9)

Generasi Unggul harus tumbuh  menjadi kelompok :
إنهم فتية آمنوا بربهم وزدناهم هدى
Merekalah para pemuda yang penuh dengan keimanan kepada Allah dan Allah lengkapkan mereka lagi dengan hidayah. (QS.al Kahfi).

Generasi Unggul memiliki akal budi yang jernih, sehingga berkemampuan menghadapi berbagai tantangan global. Mereka memiliki  jati diri sesuai fitrah anugerah Allah, yakni Beriman serta selalu mengajak kepada kebaikan serta melarang dari kemungkaran.

Potensi dasar yang dimiliki setiap manusia; jasmani, otak, dan kalbu. Ketiga potensi itu merupakan sumber munculnya nilai-nilai dasar yang menyebabkan seseorang menjadi besar dan unggul, yaitu
1) kemampuan berpikir yang luar biasa,
2) mentalitas yang baik,
3) karakter yang seimbang, dan
4) kondisi fisik yang mendukung.
Tiga yang disebut pertama (berpikir, mentalitas, dan karakter) bersandar pada otak dan kalbu, yang dua diantaranya (mentalitas dan karakter) merupakan nilai spiritual yang khusus bersandar pada kalbu.

Kekuatan yang harus ditumbuhkan dalam generasi unggul :
1.      سليم العقيدة
2.      صحيح العبادة
3.      متين الخلق
4.      ثقيف العلم
5.      قوي الجسم

Pahala Menafkahi Keluarga
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
« إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ نَفَقَةً يَحْتَسِبُهَا فَهِيَ لَهُ صَدَقَةٌ ».
Artinya: “Apabila seorang lelaki (ayah atau suami) menafkahi keluarganya dengan niat mencari pahala (dari Allah), maka nafkahnya itu dihitung sebagai shodaqoh baginya.” (HR Bukhari & Muslim)

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Memberi nafkah kepada keluarga (anak dan isteri) adalah kewajiban di pundak seorang ayah atau suami. Hal ini berdasarkan firman Allah:
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا
Artinya: “…Dan kewajiban ayah menanggung nafkah & pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya.”. (QS. Al-Baqarah: 233).

اليدالعليا افضل من اليدالسفلئ وابداءبمن تعول اُمك، واباك،واُختك، واخاك، واَدناك، فاَدناك

Tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah,dan mulailah dari orang yang telah merawatmu: ibumu,ayahmu,saudara perempuanmu, saudara laki-laki mu,kerabat dekatmu,dan kerabatmu
من بات متعوبا فئ طلب معاش أولاده بات مغفوراله
Barang siapa yang bermalam-malaman dalam mencari nafkah untuk anak-anaknya maka ia akan di ampuni oleh Allah selama waktu itu.

Keutamaan mencari nafkah :
1.      Nafkah kepada keluarga lebih afdhol dari sedekah tathowwu’ (Sunnah) Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda,
أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
“….yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar” (HR. Muslim).
2.      Jika mencari nafkah dengan ikhlas, akan menuai pahala besar serta Memberi nafkah termasuk sedekah. Dari Al Miqdam bin Ma’dikarib, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا أَطْعَمْتَ نَفْسَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ وَلَدَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ زَوْجَتَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ خَادِمَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ
Harta yang dikeluarkan sebagai makanan untukmu dinilai sebagai sedekah untukmu. Begitu pula makanan yang engkau beri pada anakmu, itu pun dinilai sedekah. Begitu juga makanan yang engkau beri pada istrimu, itu pun bernilai sedekah untukmu. Juga makanan yang engkau beri pada pembantumu, itu juga termasuk sedekah” (HR. Ahmad).
3.      Harta yang dinafkahi semakin barokah dan akan diberi ganti
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفً
 “Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang senang berinfak.” Yang lain mengatakan, “Ya Allah, berilah kebangkrutan kepada orang yang pelit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
4.      Setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban apakah ia benar memperhatikan nafkah untuk keluarganya. Dari Anas bin Malik, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ
Allah akan bertanya pada setiap pemimpin atas apa yang ia pimpin” (HR. Tirmidzi)
5.      Memperhatikan nafkah keluarga akan mendapat penghalang dari siksa neraka. ‘Adi bin Hatim berkata,
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
Selamatkanlah diri kalian dari neraka walau hanya melalui sedekah dengan sebelah kurma” (HR. Bukhari)

Akhlaq Mulia dalam Rumah Tangga
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلاَئِكَةٌ غِلاَظٌ شِدَادٌ لاَ يَعْصُوْنَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6).
Bagi para suami hendaknya pula memerhatikan pergaulan dengan istrinya karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. At-Tirmidzi)

Rasulullah bersabda kepada kita sebagai upaya menanamkan Akhlaq dalam setiap segmentasi kehidupan kita khususnya dalam keluarga :
إتق الله حيث ما كنت وأتبع السيئة الحسنة تمحوها وخالق الناس بخلق حسن
bertaqwalah kepada Allah SWT dimana kita saja kita berada, Iringi setiap kejahatan dengan kebaikan dan berakhlaqlah sesama manusia dengan akhlaq yang baik”

Senin, 23 November 2015

Mewarnai Pilkada Serentak dengan Akhlaq

Mewarnai Pilkada Serentak dengan Akhlaq
Ust H Hasbullah Ahmad *
Allah SWT berfirman : Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,(QS al-Isra 7). Rasulullah bersabda : Orang Mukmin yang paling sempurna Imannya adalah yang paling sempurna akhlaqnya (HR Turmudzi)
            Pilkada Serentak di ambang pintu, berbagai sosialisasi para calon pun sudah terlihat , baik itu dalam bentuk baliho, panplet ataupun iklan sudah mulai bermunculan, berbagai janji diubar untuk memperkuat posisi dengan cara instant, yang mulai ditinggalkan adalah akhlaq, terkadang agama dibawa sebagai penguat pondasi janji yang diubar, inilah fenomena yang kita rasakan saat ini.
            Bahkan ada anggapan bahwa agama dengan politik adalah dua unsur yang harus dipisahkan. Karena menyatunya agama dalam kehidupan politik akan mengakibatkan upaya-upaya penjualan ayat-ayat untuk kepentingan pribadi, atau agama jadi abuse buka use ada kecenderungan agama menjadi kedok. Naudzu biLLAH. Agama adalah Way of Life (Pandangan hidup manusia), Falsafah dan ideologi yang harus senantiasa ditanamkan dalam hati setiap orang. Yang namanya Way of Life tentu saja harus selalu mewarnai setiap langkah seseorang. Kehidupan beragama tidak hanya sebatas ibadah ritual, tetapi lebih dari itu. Kehidupan beragama seseorang harus ada sejak dia bangun sampai tidur kembali. Pengamalan keberagamaan seseorang tidak hanya sebatas di Masjid, akan tetapi lebih dari itu, masuk kamar mandi, tidur, sampai berhubungan suami isteri sekalipun harus dilandasi dengan nuansa keberagamaan.
           Dalam arti ada aturan-aturan tertentu yang harus dijalankan. Agama di sini bisa diartikan Ajaran agama, Akhlaq, Norma, Etika, Adat Istiadat, dan lain sebagainya yang merupakan pandangan hidup seseorang. Bukan hal yang mudah ketika kita berusaha membawa nilai-nilai ke semua unsur kehidupan, apalagi jika kita memproklamirkan (bukan mengklaim) sebagai golongan penyeru kebaikan. Bukan hal yang mudah membawa status mulia, seperti Ulama, Ustadz, Kiai, Guru, Santri, Mahasiswa Universitas yang berbasis agama. Karena seribu kali berbuat baik, itu hal yang lumrah karena memang itu lahannya. Tetapi ketika sekali terjerumus kedalam perbuatan negatif, sekecil apapun, maka dampaknya akan luar biasa sekali. Bukan saja dirinya akan diperolok-olok, tetapi nilai yang berdiri di belakangnya juga akan terbawa ikut serta. Seolah Agama ikut berperan dalam kejahatan itu. NaudzubiLLAH.
         Seolah Partai ikut menyumbang terhadap perilaku negatif politisinya, seolah Guru itu mengajarkan apa yang sering dilakukannya. Sungguh Berat, Tapi seberat apapun jika kita sudah berideologi bahwa agama (nilai) atau akhlaq harus dibawa kemanapun kita pergi, mau tidak mau harus dijalani dan itu sebagai kontrol terhadap sepak terjang kita, sebagai cermin dalam setiap tindak tanduk kita, apakah yang kita lakukan salah atau benar, menjadi cambuk ketika kita berbuat salah dan menjadi penyemangat ketika apa yang kita lakukan diyakini kebenarannya. SubhanaLLAH.
            Termasuk dalam hal berpolitik. Dalam berpolitik kita harus membawa agama yang berbasis akhlaq mahmudah, dalam berusaha dan berbisnis kita juga harus membawa agama dan akhlaq, agar apa yang kita usahakan tidak kebablasan. Ada kontrol dan ini fungsi utama. Tidak ada manipulasi, tidak ada mark up, tidak ada unsur penipuan, tidak ada barang dagangan yang tidak layak. Itu dalam berbisnis.
            Maka, ketika kita membawa agama dan akhlaq ke ranah politik, maka si pelaku harus berprinsip bahwa politik dan agama harus sejalan dengan akhlaq. Bukan agama yang mengikuti kemauan politik (berkedok agama). Yang dikategorikan berkedok atau menjual ayat adalah ketika agama bukan sebagai asasnya, tetapi ketika pemilu dia berdalil tentang agama, atau mencari fatwa dari para alim ulama sebagai pembenaran dari sikapnya yang sebenarnya salah, Iyyadzu biLLAH, tapi politiklah yang harus sesuai dengan agama yang diwarnai dengan akhlaq. Contohnya, bagaimana seorang pemimpin tidak berlaku sewenang-wenang, bagaimana seorang wakil rakyat menyampaikan amanah rakyatnya, bagaimana seorang politisi tidak memanipulasi anggaran dengan kedok tender dan studi banding keluar negeri dan banyak kasus-kasus lain yang silih berganti terngiang di telinga kita melalui media cetak dan elektronik,
            Bagaimana sebagai wakil rakyat mempunyai kepekaan sosial terhadap masyarakat disekelingnya. terlepas politisi itu berasal dari partai agamis, nasionalis atau lainnya, ketika berbuat salah ya tetap salah. Ketika kita mau obyektif, tingkat kesalahan yang dilakukan harus mendapat ganjaran yang setimpal pula. Tidak melakukan penghukuman yang berlebih kepada politisi berbasis agama sementara yang berbasis non agama, itu dianggap hal yang biasa. Korupsi ya korupsi, mencuri ya mencuri. Titik. Allahu Akbar
            Seringkali kita terjebak ke dalam penghujatan kepada nilai-nilai agama itu sendiri ketika sang Politisi melakukan sebuah kesalahan. Apakah itu karena poligaminya, karena berjenggotnya, karena baju kokonya. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Kalaupun mau menyalahkan, ya salahkan si pelakunya tanpa ada embel-embel dibelakangnya. Resiko ketika sebuah nilai dibawa ke area publik.
            Maka, marilah kita songsong dan warnai tahun politik dengan akhlaq, bukan agama yang dijadikan kedok tapi akhlaq yang mesti dijiwai dan dibumikan. Jauhkan diri dari kemunafikan untuk meraih kemenangan mari tampilkan kejujuran untuk meraih keberkahan, karena Rasul pernah memberikan kode etik bahwa Allah SWT tidak melihat fisik, postur dan seberapa besar dan banyak harta kita, tapi Allah melihat dedikasi kita dalam beramal yang dilandasi dengan hati dan jiwa yang bersih yang bermuara dari akhlaq yang mulia.
            Sebagai calon legislator mulailah dengan langkah kejujuran bukan kebohongan, kerena kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan, sedang kebohongan menggiring kita pada kenistaan dan kehancuran. Ingat : “Hidup sukses itu baik, tapi Hidup bahagia itu lebih Baik” berapa banyak orang yang memandang dirinya sudah sukses karena berada pada garis terdepan duduk pada posisi nomor satu atau pada kemenangan, akan tetapi posisi kesuksesan tersebut dilalui dengan mengenyampingkan kejujuran dan akhlaq. Demi posisi money politic jadi solusi, demi posisi segala macam cara dilakoni. Maka berapa banyak orang yang sukses diawal tapi sengsara diujung kepemimpinan. Naudzu biLLAH.
            Sebagai pemilih jadilah kita pemilih yang cerdas dan berakhlaq, jangan karena krisis ekonomi juga berdampak krisis akhlaq dalam kehidupan kita, rela menjadi munafiq hanya dengan seragam yang diberikan gratis, rela menjadi munafik hanya karena uang yang diberikan. NaudzubiLLAH Harus diakui bahwa praktek politik di Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini dipenuhi oleh berbagai tingkah laku yang membawa hawa nafsunya sebagai tuhannya. Inilah yang kemudian membawa sejarah kepada fenomena bahwa kebanyakan gerakan politik pada akhirnya berujung pada pemenuhan birahi, libido dan nafsu untuk memiliki kekuasaan. Maka Yuk Jangan pesimis. Mari kita hidupkan akhlaq yang tertidur ke jalan keberkahan untuk Indonesia. Kita warnai tahun Pilgub Jambi dengan akhlak. Allahu Akbar…

*(Ketua LDNU Provinsi Jambi, Owner Sekolah Qur'an Hadis Jambi, Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi, Penulis buku Nikmatnya Sholat Sunnah Referensi Press Jakarta & Dewan Pakar BKMT Kota Jambi)

Senin, 16 November 2015

Tugas Hadis MK Hadis Mahasiswa KPI Semester 1 Fakultas Ushuluddin



Tugas Hadis MK Hadis
Mahasiswa KPI  Semester 1 Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi

Dosen Pengampu : Ust H Hasbullah Ahmad 081366174429

Sistematika Penulisan :
SEMUA HADIS dalam TUGAS ini DIAMBIL DARI BULUGH AL-MARAM DALAM BAB ZIKIR DAN DO’A

  1. Menuliskan Hadis yang dibahas
  2. Menampilkan Kosa Kata atau Mufradat
  3. Menjelaskan Hadis secara baik dan sempurna, yang juga didukung dengan dalil-dalil dari al-Qur’an al-Karim
  4. Lebih sempurna bila Tambah Hadis Lain dengan Tema yang Lain dari Hadis yang Shahih…
  5. Kesimpulan.
  6. SELAMAT BERTUGAS… diberi waktu 2 kali pertemuan untuk membuat makalah Hadis.
No
Nama
Kajian Hadis
1
Mirza
Hadis 1 Hadis dari Abu Hurairah dan Hadis 2 Hadis dari Mu’adz bin Jabal
2
Amir
Hadis 3 Hadis dari Abu Hurairah dan Hadis 4 Hadis Riwayat Tirmidzi
3
Arsan
Hadis 5 Hadis dari Abu Ayyub al-Ansari dan Hadis 6 Hadis dari Abu Hurairah
4
Eki
Hadis 7 Hadis dari Juwairiyah binti Harith
5
Danu
Hadis 8 Hadis dari Abu Sa’id al-Khudri
6
Vurkon
Hadis 9 Hadis dari Samurah bin Jundub dan Hadis 10 Hadis dari Abu Musa al-As’ary
7
Afnan
Hadis 11 Hadis dari Nu’man bin Basyir
8
Bela
Hadis 12 hadis dari Anas dan Hadis 13 Hadis dari Salman
9
Baya
Hadis 14 hadis dari Umar dan Hadis 15 hadis dari Ibnu Mas’ud
10
Onah
Hadis 16 hadis dari Syaddad Ibnu Ausin
11
Samratul
Hadis 17 hadis dari Ibnu ‘Umar
12
Via
Hadis 18 hadis dari Ibnu Umar dan Hadis 19 hadis dari Abdullah Ibnu Umara
13
Dita
Hadis 20 hadis dari Buraidah
14
Imah
Hadis 21 hadis dari Abu Hurairah dan Hadis 22 hadis dari Anas
15
Nur
Hadis 23 hadis dari Abu Musa al-‘Asy’ari dan Hadis 24 hadis dari Abu Hurairah
16
Leha
Hadis 25 hadis dari Anas dan Hadis 26 hadis Tirmizi dari Abu Hurairah
17
Rahma
Hadis 27 hadis dari A’isyah dan Hadis 28 hadis Syaikhani dari Abu Hurairah