Kamis, 07 November 2013

Semangat Baru Pemimpin Baru



Semangat Baru, 
Pemimpin Baru di Tahun Baru
 
 Ust H Hasbullah Ahmad *
Hijriyah 1434 H telah berganti dengan 1435 H seiring pula dengan pergantian pemimpin baru khususnya kota Jambi, perubahan tahun yang penuh inspirasi ini sepatutnya menjadi langkah untuk menumbuhkan semangat baru dalam menjalani hidup dengan cara move on dari keterpurukan kepada kemajuan, dari keburukan menuju kebaikan, dari kegundahan menuju ketenangan.
Semangat Pelantikan H Syarif Fasha dan KH Abdullah Sani sebagai Walikota dan Wakil Walikota Jambi pada akhir bulan Zulhijjah menuju awal Muharram Tahun Baru Islam merupakan awal napak tilas yang menumbuhkan semangat baru dalam kepemimpinan Jambi baru, setidaknya semangat baru tersebut terinspirasi dalam semangat Hijrah Nabi Muhammad SAW. hijrah atau move on yang bisa diambil dari peristiwa hijrah adalah: (a) perisitwa hijrah Rasululah dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah merupakan tonggak sejarah yang monumental dan memiliki makna yang sangat berarti bagi setiap muslim; (b) Hijrah mengandung semangat perjuangan tanpa putus asa dan rasa optimisme yang tinggi. Menegakkan aqidah di tengah budaya jahiliyah adalah perjuangan berat; (c) Hijrah mengandung semangat persaudaraan. Kaum Anshor Madinah dengan sepenuh hati menerima kaum Muhajirin Makkah, dan inilah contoh ukhuwah yang sejati.
Hijrah atau melakukan perubahan adalah urusan yang berat dan sulit. Di bawahnya terdapat onak dan duri. Terkadang harus mengarungi lautan krisis, mendaki puncak-puncak gunung sebagai tantangan, hidup di antara serangga berbisa dan binatang-binatang buas. Ya.., hijrah merupakan perkara yang berat bagi diri manusia. Padahal jiwa manusia berdasarkan tabiatnya lebih menyenangi kampung halamannya dan senang melihat wajah-wajah yang akrab di matanya dalam masa yang panjang. Meskipun demikian, jika seorang yang beriman merealisir ibadah itu (hijrah) dan mengiringinya dengan berjuang, maka sesungguhnya dia layak untuk mengharap rahmat Allah.
Hijrah mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah. Dan kata hijrah menjadi identik dengan kata benar. Allah Ta’ala menyebut orang-orang yang berhijrah dengan sebutan orang-orang yang benar. Akan tetapi Allah membuat orang-orang yang menang bukan semata orang-orang yang benar. Allah berfirman: “(Yaitu) orang-orang fakir muhajirin yang diusir dari kampung halaman mereka dan dari harta mereka karena menuntut karunia Allah dan keridloan-Nya. Dan mereka menolong Allah dan Rosul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.”(QS. Al-Hasyr: 8)
Maka dari itu derajat shiddiq (benar) itu lebih tinggi, karena ia selalu berkaitan dengan kedudukan hijrah, yang mana jihad itu tidak akan sempurna tanpanya. Allah berfirman: “Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya akan memperoleh tempat pindah yang banyak di bumi serta kelapangan rizki.” (QS. An-Nisa’: 100)
Konstruksi bangunan peradaban Islam dimulai sejak berawalnya hijrah. Secara historis faktual, masyarakat Madinah sebagai komunitas yang menerima kedatangan kaum Muhajirin Makkah telah dengan sepenuh hati membuka lebar kesempatan untuk bergabung dan menempati wilayah Yatsrib sebagai tempat hunian yang layak dan nyaman.
Rasulullah dan para sahabat hendak membangun komunitas yang selanjutnya dikenal dengan masyarakat madani. Bangunan peradaban dalam masyarakat di kota Madinah itulah yang kemudian memancar dan mampu memberi warna dunia dengan segala pancaran cahaya keimanan, kekuatan aqidah yang membentang, sinaran budi yang menembus jagad semesta raya. Dan Nabi Muhammad saw adalah memang diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia.
Hijrah pada masa lalu mungkin tidak akan kita lakukan kini. Perintah hijrah dari Makkah ke Madinah adalah khusus untuk Rasul saw dan para sahabatnya. Tidak mungkin kita melakukan hal itu sementara kita berada di Indonesia dengan kondisi yang sedemikian adanya.
Hijrah pada masa kini adalah menunjukkan kepada Allah dan Rasul-Nya bahwa kita mampu melaksanakan hijrah dalam bentuk kontekstual; meninggalkan berbagai bentuk kemaksiatan yang menular, melepas belenggu syahwat yang kronis, mengkonsumsi produk dalam negeri yang halal dan menjauhi produk negeri tiran, dan seterusnya.
Sebagai seorang Muslim atau pemimpin muslim sejati, hijrah adalah suatu keniscayaan. Pemaknaan hijrah itu bergantung pada situasi dan kondisi yang mengitarinya. Hijrah tidak akan dilakukan tanpa adanya pertimbangan dan pemikiran yang mendalam. Hingga hijrah itu dilakukan sebagai bentuk pilihan yang aplikatif berdasar pada kesadaran dan keterpanggilan menjalankan agama Allah dan menegakkannya di muka bumi.
Sebagai apapun kita adanya itulah kita. Kita tekuni bidang kita. Kita nikmati fokus kita. Jika menjadi petani, nikmatilah profesi bertani. Jika menjadi pedagang di pasar, nikmatilah profesi berdagang. Yang bekerja di kantor, berperilakulah secara istiqomah dan komitmen sebagai aparatur pemerintah. Ke semua bidang kehidupan yang menjadi bagian kita adalah pilihan kita yang tepat sesuai kemampuan dan porsi kita, dan niat yang menjadi motor penggerak non-fisik hendaknya lurus menuju kepada Allah semata.
Motivasi hijrah yang direalisasikan dengan sungguh-sungguh itu merupakan bentuk manifestasi iman yang selama ini Nabi dan para sahabat pegangi dan perjuangkan. Siapapun di antara kaum Muslim dapat memilih dan mengambil ibroh dari spirit berhijrah Nabi saw. Di dalam aspek kehidupan manapun orang berkecimpung, semangat hijrah dapat diaktualisasikan. Pendekatan yang digunakan adalah keimanan.
Dengan semangat hijrah Nabi saw setiap Manusia Muslim dapat: memperbaiki hubungan persaudaraan dengan siapapun tanpa sekat-sekat politik atau kepentingan; membangun aqidah umat di setiap tempat kita berdomisili; mengedepankan urusan ketuhanan ketimbang masalah duniawi; menerapkan asas keberasamaan dan sikap egaliter, tanpa rasa sok kuasa; menyeimbangkan kualitas dan kuantitas hidup; dan sebagainya.
Mengupayakan transformasi nilai-nilai hijrah dalam bentuk nyata keseharian dapat menyelaraskan antara perilaku jasmani dengan keyakinan ruhani. Nilai hijrah tidak sebatas semangat untuk beragama dan bersosial semata, melainkan meneguhkan kualitas keyakinan setiap manusia Muslim dalam mengarungi bahtera kehidupan.
Masihkah kita berdiam diri dan tidak mau mengikuti jejak Rasul saw, khususnya kepada pemimpin kita di Provinsi Jambi melalui kontekstualisasi hijrah di masa sekarang? Saatnya setiap manusia Muslim bergerak, bertindak dan memperbanyak amal demi menegakkan agama Allah,

*(Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi, Penulis buku Mewujudkan Ketenangan Jiwa GP Press Jakarta & Dewan Pakar BKMT Kota Jambi)

Minggu, 27 Oktober 2013

Pemuda dalam Islam (Refleksi Hari Sumpah Pemuda)



Pemuda dalam Islam
(Refleksi Hari Sumpah Pemuda)
 Ust Hasbullah Ahmad 081366174429

Ya "Masa muda adalah masa yang berapi-api" kata bung haji Roma. Tapi pada lirik beikutnya menyakitkan kita dan itu realita yang terlihat dalam kehidupan kita yaitu, "yang maunya menang sendiri, walau salah tak perduli, (Prolognya dibuka dengan lagu dangdut yang familiar), tetapi harus tetap optimis karena Insya Allah tidak sedikit pemuda pemudi islam yang memiliki akhlak mulia, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, dan tidak menuruti hawa nafsu mudanya. Terbukti dalam Ayat-ayat al-Quran dan Hadis yang menceritakan keutamaan para pemuda/pemudi, diantaranya adalah Allah SWT berfirman : "Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam Keadaan takut bahwa Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir'aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. dan Sesungguhnya Dia Termasuk orang-orang yang melampaui batas. " (Q.S.Yunus :83)
Kemudian dalam mengisah ashhabul kahfi Allah berfirman : "Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. "( Q.S.Al Kahfi :13) Allah berfirman : Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim ".Maksudnya Nabi Ibrahim alaihissalam melakukan hal ini ketika usianya masih muda remaja. SubhanaLLAH.
Kemudian al-Qur'an banyak membicarakan para pemuda yang telah mengukir prestasi dalam berbagai keutamaan,antara lain adalah Nabi Isma'il alaihissalam yang telah rela mengorbankan dirinya untuk di potong lehernya karena taat pada Allah dengan penuh kesadaran, dengan keikhlasan total tersebut membuat Nabi Ismail didedikasikan Allah SWT dalam al-Qur’an dan Juga diizinkan Allah untuk dijadikan monument disekitar ka’bah yang dikenal dengan Hijr Isma’il. Al-Qur'an juga menceritakan pemuda lain kepada kita,yaitu Nabi Yusuf alaihissalam. Ia di tawari oleh seorang wanita yang sangat cantik jelita dan kaya raya untuk melakukan hubungan biologis,yang seandainya ia mau melakukannya tidak ada sesuatupun yang dapat menghalanginya. Namun Nabi Yusuf alaihissalam menolak ajakan tersebut dan memilih hidup mendekam di penjara semata-mata karena keimanannya kepada Allah SWT. SubhanaLLAH.
Dalam Kitab Tafsir al-Qur’an al-Adzhim Ibn Katsir disebutkan bahwa mayoritas orang -orang yang merespon baik seruan nabi adalah kalangan muda. Mereka diantaranya adalah Sahabat Abu Bakar yang masuk Islam pada Usia 38 tahun, Sahabat Umar masuk Islam pada umur 28 tahun dan Sayyidina Ali yang masuk Islam kurang dari umur 10 tahun dan masih banyak yang lainnya yang masuk Islam kisaran umur seorang pemuda.
Hadist Nabi Rasulullah SAW juga bersabda : "Ada 7 golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya. Pada hari itu, tidak ada naungan, kecuali nanungan Allah. Golongan tersebut adalah pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh di dalam beribadah kepada Allah, seseorang yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid-masjid, dua orang yang saling mengasihi karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diundang oleh seorang perempuan yang berkedudukan dan berwajah elok (untuk melakukan kejahatan) tetapi dia berkata, 'Aku takut kepada Allah!', seorang yang memberi sedekah, tetapi dia merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya, dan seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga menetes air matanya." (HR Bukhori)
Dalam hadis lain, Rasul bersabda: "Se­sungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum ter­hadap seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah." (HR Ahmad, Thabrani dalam al-Mu`jamul Kabir dan lainnya). Kata shabwah yang dikaitkan dengan pemuda pada hadis di atas, dijelaskan dalam kitab Faidhul Qadir (2/263) sebagai pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya. Sebaliknya, dia membiasakan diri melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan.
Terakhir, Rasul memberikan kita peringatan untuk kita semua, para pemuda, untuk tidak menyianyiakan masa muda tersebut dengan hal-hal yang bisa mendatangkan murka Allah. Rasulullah SAW bersabda dalam hadits Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu, "Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya". (HR. At-Tirmizi)
Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang kematianmu." (HR. Al Hakim)>>> BarakaLLAH

Jumat, 25 Oktober 2013

Tingginya Kebudayaan Hawa Nafsu (Motivasi Menyetir Nafsu)



Tingginya Kebudayaan Hawa Nafsu (Motivasi Menyetir Nafsu)  
 Ust H Hasbullah Ahmad
Dalam kehidupan modern dewasa ini ketika semangat kapitalisme telah menjelma menjadi semacam jaring yang mengepung segala tindakan dan perilaku manusia, praktik konsumsi tidak lagi dipahami hanya sekadar memenuhi kebutuhan dasar manusia, tetapi juga dimengerti sebagai urusan yang berhubungan erat dengan pemuasan unsur-unsur simbolik manusia. Dalam pengertian ini, konsumsi akhirnya menjadi tanda yang dipelintir artinya bagi peningkatan status, prestise, kelas, dan simbol sosial tertentu. Kegiatan berbelanja di Mal, makan di restoran yang menyediakan makanan cepat saji, kursus kepribadian dan berpakaian adalah contoh kecil bahwa aspek kepemilikan/memiliki apa pun yang serba baru dan canggih pada dasarnya bukan untuk pemenuhan kebutuhan dasar.
Pengertian konsumsi yang absurd ini dalam kehidupan modern menjadi arena sosial yang menyedot dan menarik minat energi pelampiasan. Ia menjelma menjadi medan kesadaran yang harus segera dipenuhi dan dipuaskan kebutuhannya. Identitas diri di hadapan lingkungan sosial yang demikian diperebutkan dan dibentuk oleh produk-produk rayuan melalui citra-citra tertentu yang ditawarkan lewat berbagai media massa: Supaya kelihatan jantan dan macho, maka seolah di harus mengisap rokok tertentu. Supaya perempuan kelihatan cantik, pergunakanlah kosmetik merek tertentu. Agar Anda dikategorikan sebagai manusia yang tidak ketinggalan zaman, milikilah atribut artis yang lagi ngetop! Naudzu biLLAH.
Manusia modern adalah manusia yang dahaga karenanya mereka sangat bernafsu untuk memburu segala sesuatu yang berhubungan dengan prestise dan upaya peningkatan status sosial. Membanjirnya produk-produk yang menawarkan pembentukan citra diri melalui seni bujuk rayu media massa bukan meredakan gairah, tapi malah semakin memacu semangat dan prinsip untuk secepat mungkin menggerakkan tungkai menjadi manusia modern. Faktanya, usaha manusia modern untuk senantiasa berpacu dalam memenuhi segala hasratnya malah menimbulkan tegangan dan dorongan baru yang harus dikejar dan dipenuhi yaitu "keinginan".
Keinginan adalah sesuatu yang paradoks: setelah suatu keinginan terpenuhi, timbul keinginan lain untuk segera diselesaikan dan dipenuhi hajatnya. Namun, dalam kerangka kehidupan modern, keinginan haruslah menjadi sesuatu yang tak berujung dan harus selalu diposisikan sebagai pesona yang dapat menyedot hasrat. Alasannya, dengan cara inilah kapitalisme dapat memelihara dan menjaga kelanggengan hidup seluruh produknya.

Dalam tilikan kesadaran agama, yang memprioritaskan kebersahajaan dan yang menganjurkan hidup tidak berlebihan, logika kapitalisme yang mengemas pemuasan hawa nafsu sebagai dalil yang tak tergugat, telah dengan sungguh-sungguh ikut terlibat untuk mengalihkan arah setiap usaha pencarian manusia dari nilai-nilai transendental, spiritual, moral, menuju pencarian identitas yang melulu ditakar berdasarkan hubungan-hubungan kekuasaan, kesenangan, dan rayuan. Iyadzu biLLAH.

Logikanya adalah jika segala hawa nafsu disalurkan demi pemenuhan kenikmatan, ia dapat menjadi semacam dinamo yang pengoperasiannya bisa dilakukan menjadi tanpa batas sehingga akhirnya ia menjelma menjadi sesuatu yang tidak realistis dan membahayakan eksistensi manusia itu sendiri. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika kaum sufi, misalnya, memandang manusia modern sebagai manusia yang dibutakan matanya yang hanya tertarik pada kulit ketimbang terpesona untuk mencari dan menemukan isi. Allah SWT mengingatkan kita : "Apakah engkau tidak perhatikan orang yang telah menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya. Apakah engkau akan dapat menjadi pelindungnya. Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu hanyalah seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi." (Qs. Al Furqan: 43-44)
Dapat dimengerti jika logika hawa nafsu sanggup memalingkan dan menyamarkan setiap upaya pencarian manusia terhadap nilai-nilai luhur sebab sebagaimana menurut Gilles Deleuze dan Felix Guattari, logika hawa nafsu yang mewabah akibat bekerjanya spirit kapitalisme diproduksi oleh apa yang mereka sebut sebagai "mesin hawa nafsu". Sebuah peristilahan psikoanalisis yang mereka gunakan untuk menjelaskan mekanisme produksi "ketidakcukupan" dalam diri seseorang. Keinginan untuk "memiliki" bukan disebabkan "ketidakcukupan alamiah" yang ada dalam diri kita, melainkan hanya untuk memenuhi pencarian identitas yang tidak henti-hentinya. Oleh karena itu, identitas manusia modern adalah identitas yang dibangun oleh proses konsumsi dan proses komoditi dari citraan dan rayuan-rayuan media massa.
Identitas sebagaimana dikatakan Jonathan Rutheford merupakan satu mata rantai masa lalu dengan hubungan-hubungan sosial, kultural, dan ekonomi di dalam ruang dan waktu satu masyarakat hidup. Dalam kaitannya dengan hubungan sosial, masyarakat konsumerisme mengaitkan identitas dengan pola perubahan sosial. Masyarakat dipandang tidak lebih dari struktur mekanis. Akibatnya, melahirkan kesulitan bagi manusia untuk memahami hubungan organik sistem kebudayaan yang ada. Dalam kondisi itu manusia digiring kearah keterasingan atau alienasi. Situasi keterasingan ini mengakibatkan keterkungkungan manusia di hadapan realitas.
Kebudayaan yang berdasarkan pada "logika hawa nafsu" tersebut menggambarkan bahwa revolusi kebudayaan tak lebih dari sebuah revolusi dalam penghambaan diri bagi pelepasan hawa nafsu belaka. Iklan-iklan di televisi misalnya, ia beroperasi lewat pengosongan tanda-tanda dari pesan dan maknanya secara utuh sehingga yang tersisa adalah penampakan semata. Sebuah wajah merayu yang penuh atribut dan mike-up adalah wajah yang kosong makna sebab penampakan artifisial dan kepalsuannya menyembunyikan kebenaran diri. Apa yang ditampilkan dari kepalsuan dan kesemuan tersebut menjadi sebuah rayuan bagi para pemirsa. Hingga yang muncul dari sebuah rayuan, bukanlah sampainya pesan dan makna-makna, melainkan munculnya keterpesonaan, ketergiuran, dan gelora hawa nafsu: gelora seksual, gelora belanja, gelora berkuasa. Naudzu biLLAH
Kemajuan teknologi sebagai media untuk menuntun pola hidup dan kebudayaan telah mengkondisikan manusia pada sebuah ruang penjara elektronik dan penjara rumah apalagi dengan berkembangnya teknologi televisi. Media massa ini pada akhirnya tidak bisa disalahkan total karena media adalah pembentuk kesadaran sosial yang pada akhirnya menentukan persepsi manusia terhadap dunia dan masyarakat tempat mereka hidup. Sisi yang lain, karena rayuan tidak berhenti pada kebenaran tanda, melainkan beroperasi melalui pengelabuan dan kerahasiaan, maka ia menjadi sebuah wacana yang menenggelamkan identitas diri ke arah identitas yang dibangun berdasarkan citraan dan rayuan-rayuan semata.
Berdasarkan fakta tersebut, otonomi subyektif manusia terkikis habis oleh kecenderungan-kecenderungan yang mengubur aspek kesadaran manusia terhadap makna hidupnya. Pasalnya, makna hidup adalah potensi diri yang diaktualkan lewat perilaku sehari-hari. Identitas diri yang dibangun berdasarkan citraan-citraan dan rayuan-rayuan semata bukan lahir berdasarkan potensi diri sebab potensi diri adalah wujud identitas yang menampakkan diri apa adanya dihadapan realitas. Jika demikian, dapat dikatakan bahwa kecenderungan-kecenderungan yang mengubur aspek kesadaran manusia pada masyarakat konsumer adalah "hawa nafsu". Logika hawa nafsu berdasar pada, ketika sesuatu dilakukan, dibeli dan dinikmati, itu bukan demi kebutuhan sebab kebutuhan adalah energi murni organik. Dorongan makan, minum apa adanya ketika buka puasa tiba, itu menggambarkan bahwa pemenuhan kebutuhan adalah energi murni organik yang tidak bisa ditunda karena jauh dari berbagai bentuk makanan.
Di era konsumerisme, kebutuhan dilandasi oleh nilai-nilai prestise, life style dan citraan ketimbang nilai utilitas. Logika yang mendasarinya bukan kebutuhan (need), melainkan logika hasrat (desire). Hasrat atau hawa nafsu dengan begitu dicipta seakan menjadi kebutuhan yang tiada hentinya. Jika hasrat atau hawa nafsu pada akhirnya menjadi kebutuhan, kebutuhan manusia adalah pemenuhan hawa nafsu. Jean Baudrillard melihat kebutuhan tersebut bagai sebuah jaring laba-laba, "Apapun yang mengalir melalui mereka (konsumer), apa pun menarik mereka bagai magnet, akan tetapi mengalir melalui mereka tanpa meninggalkan bekas apa-apa".
Hal ini dapat kita lihat pada sekelompok masyarakat tertentu yang mempunyai budaya konsumsi berlebihan. Kehadiran hasrat yang ditopang oleh kebutuhan pada kaum selebritis dalam fenomena hidup, menenggelamkan subjek yang dikuasainya ke dalam tanda, simbol, atau nilai-nilai yang bersifat tumpang tindih bahkan tampak kontradiktif dari realitas yang sebenarnya. Naudzu biLLAH. >>>

Rabu, 23 Oktober 2013

Aktualisasi Semangat Haji menuju Haji Mabrur



Aktualisasi Semangat Haji menuju Haji Mabrur
Ust H Hasbullah Ahmad
(Dosen Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin IAIN STS Jambi, Penulis buku Mewujudkan Ketenangan Jiwa GP Press Jakarta & Dewan Pakar BKMT Kota Jambi)

Selamat Datang Jama’ah Haji Provinsi Jambi, satu kata haru yang mesti kita ucapkan untuk jama’ah haji kita yang baru datang dari proses pelaksanaan ritual haji . SubhanaLLAH  betapa kebahagiaan telah menghiasi wajah-wajah haji kita dan sejuta harapan telah tertanam dalam di lubuk hati mereka, untuk mengamaliyahkan nilai-nilai haji yang telah mereka lalui  setelah memenuhi panggilan Allah swt. Maka sepatutnya semangat untuk membumikan nilai-nilai haji dalam kehidupan bermasyarakat haruslah diwujudkan, karena haji mabrur bukan hanya pada ritual belaka tapi pelestarian nilai-nilainya dalam kehidupan nyata. Karena haji semata-mata ditunaikan karena Allah SWT Karena itu pulalah para ulama menganjurkan bahwa kewajiban pertama bagi orang yang akan menunaikan haji adalah bertaubat. Bertaubat dari semua dosa dan maksiat, baik yang akan berangkat haji itu seorang petani, pegawai, gubenur, bupati, politisi, polisi, artis, dokter, menteri maupun seorang kiayi, laki-laki maupun perempuan , tua maupun muda. Inilah yang disyaratkan oleh Allah swt dalam firmanNya “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah taqwa”(QS al-Baqarah; 197).
Tentu saja kita sudah maklum bahwa taqwa itu tidak bisa dicapai kecuali dengan bertaubat dan meninggalkan segala jenis perbuatan maksiat. Kalau orang yang menunaikan haji sudah bertaubat maka ia akan mampu memahami dan menjiwai syiar haji yang teramat indah itu yaitu “Labbaik Allahumma labbaik, Labbaika La’ Syarika laka labbaik” dengan penuh penghayatan para haji akan menghayati seolah-olah berucap: Ya Allah aku datang, aku datang, memenuhi panggilanMu, lalu aku berdiri di depan pintuMu. Aku singgah di sisiMu. Aku pegang erat kitabMu, aku junjung tinggi aturanMu, maka selamatkan aku dari adzabMu, kini aku siap menghamba kepadaMu, merendahkan diri dan berkiblat kepadaMu. BagiMu segala ciptaan, bagiMu segala aturan dan perundang-undangan, bagiMu segala hukum dan hukuman tidak ada sekutu bagiMu. Aku tidak peduli berpisah dengan anak dan istriku, meninggalkan profesi dan pekerjaan, menanggalkan segala atribut dan jabatan, karena tujuanku hanyalah wajah-Mu dan keridhaanMu bukan dunia yang fana dan bukan nafsu yang serakah maka amankan aku dari adzabMu.
Setelah Talbiyah dikumandangkan tidak hanya dari lisan nyata tapi dari lubuk hati yang paling dalam kemudian menancapkan niat dalam hati  sambil  menanggalkan pakaian  biasa dan  mengenakan pakaian ihram. Tak  dapat disangkal bahwa pakaian menurut kenyataannya dan juga  menurut al-Qur'an  berfungsi  sebagai  pembeda  antara  seseorang atau sekelompok dengan lainnya. Pembedaan tersebut dapat  mengantar kepada  perbedaan status sosial, ekonomi atau profesi. Pakaian juga dapat memberi pengaruh  psikologis  pada  pemakainya. Maka di Miqat  Makany  di tempat dimana ritual ibadah haji dimulai, perbedaan dan pembedaan  tersebut  harus  ditanggalkan.  Semua harus  memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis dari pakaian harus ditanggalkan,  hingga  semua  merasa  dalam satu  kesatuan  dan  persamaan. Seorang yang telah melaksanakan ibadah  haji  akan  atau  seharusnya  dipengaruhi jiwanya  oleh  pakaian ini. Seharusnya ia merasakan kelemahan dan keterbatasannya, serta pertanggungjawaban   yang   akan ditunaikannya  kelak  di  hadapan  Allah Yang Maha Kuasa. Yang disisi-Nya tiada perbedaan antara seseorang dengan yang  lain, kecuali atas dasar pengabdian kepada-Nya.
SubhanaLLAH dengan  dikenakannya  pakaian  ihram,  maka  sejumlah larangan harus diindahkan oleh  pelaku  ibadah  haji.  Seperti jangan menyakiti binatang, jangan membunuh, jangan menumpahkan darah, jangan  mencabut  pepohonan.  Mengapa?  Karena  manusia berfungsi memelihara makhluk-makhluk Tuhan itu, dan memberinya kesempatan  seluas  mungkin  mencapai  tujuan   penciptaannya. Dilarang  juga menggunakan wangi-wangian, bercumbu atau menikah, dan berhias supaya setiap haji menyadari bahwa  manusia  bukan hanya  materi  semata-mata  bukan  pula  birahi.  Hiasan  yang dinilai Tuhan adalah hiasan rohani. Dilarang pula  menggunting rambut,  kuku, supaya masing-masing menyadari jati dirinya dan menghadap pada Tuhan sebagaimana apa adanya. 
Maka barang siapa yang telah sukses memenuhi perintah Allah tersebut ia akan mendapatkan haji yang mabrur, yang diantara tandanya adalah sepulang haji ia tidak akan mengulang maksiat, dosa-dosa yang lalu, ia akan tampil sebagai muslim yang shalih dan muslimah yang shalihah.
Maka sebuah negara semakin banyak muslim dan muslimah yang taat, negara itu akan semakin aman makmur dan sentosa. Maksiat dan kemungkaran akan menepi, perjudian dan pencurian akan sepi, perzinaan dan pembunuhan akan mudah diatasi. Inilah yang diingatkan Nabi dalam haditsnya “Sesiapa yang melaksanakan haji kemudian tidak melakukan Rafats dan tidak pula Fusuq maka ia akan kembali ke daerahnya dalam keadaan seperti bayi yang di lahirkan. (HR Mutaffaqun ‘alaih)
Sepulang haji yang kikir akan menjadi dermawan, dan yang biasanya menyebar kejahatan berubah menebar salam. Itu semua manakala hajinya mabrur. Namun kenyataannya adalah bagaikan siang yang dihadapkan dengan malam, semuanya bertolak belakang, mereka tidak mengambil manfaat dari ibadah haji selain menambah gelar Pak Haji atau Bu Hajjah. Yang korup tetap korup, yang lintah darat tetap lintah darat, yang jahat tetap jahat.Maka tidak heran jika Rafats, Fusuq dan Jidal marak dimana-mana sampai terjadi krisis moral, krisis nilai, krisis kemanusiaan, krisis politik, lingkungan, ekonomi dan sosial. Semoga Allah swt memberikan kekuatan kepada kita serta haji dan hajjah kita untuk mengaktualkan nilai-nilai haji dalam kehidupan bermasyarakat. Amin Ya Rabb>>>